Rumah Terakhir
Setelah kematianya barulah kita sadar
akan tujuan hidup yang sebenarnya. Berlinang air mata keluarga, berdegub jantung
setelah mendengar kematian itu, berusaha agar ia dituntun ke tuhanya bersamaan
dengan syahadat diujung lidah pilatnya yang gemetar, setelah rohnya tak ada lagi
menginjak bumi. Barulah apa yang menjadi kebencian dalam diri kita akan membuka
maaf dan mengingat kebaikan yang telah diberikanya. Diujung keluh resah yang
kita rasakan merasa orang itu berhutang budi di kian sakitnya, kini sudah tak
ada arti karena rasa itu sudah ditiup angin akhirat, Membiaskan dalam genggamnya
yang sudah siap akan pertanggung jawabannya dialam sana.
Matahari telah pulang lama keperaduanya. Tiada sisa dari warna petang
yang terlihat di malam yang kelam. Kecipak kaki berlari kecil, berhenti dari
rumah kerumah yang ada paut keluarga dan tetangga. rasa yang tidak berasa, meski
ditanda hujan dengan basah sekujur tubuh. Menuju rumah kami yang tak jauh. Terengah
dia membuka pintu rumah kami, membuyarkan waktu santai bersama keluarga dimalam
itu.
“Eeng
mee...ninggal” ucap Devi terbata.
“inallilahiroziunnnnn” kami
sentak menyambut ucap berita duka yang dibawa Devi.
Dibalut rasa tak percaya, menjawab
keterkejutan kami dengan sendirinya bahwa hidup akan kembali pula kepada tuhannya.
“Yuk cil, mang, tanjung kita kesana melayat terakhir kali kita melihatnya” Ajak Devi.
“Iya yuk kita kesana” ucap ibu dan ayahku.
“Njung
yuk” Ajak ibuku.
“kena
ma ulun kesana,siang kena ja.mun ulun kesana,siapa yang menjaga rumah ?” Ucapku
menyakinkan.
“iyalah,kena kesana lah” Sambut ibuku.
Mereka pun pergi kerumah devi. Meninggalkan
ku di rumah sendiri. Dipadu malam sunyi nan sepi, dan dari samar kejauhan tadarus
qur’an, menghentikan hujan yang menandai basah dibulan ramadan. Tersentak aku
berfikir kenapa kita masih mengingat harta ?, kenapa kita masih mengingat rumah
dunia ? bukankah kita semua akan dipanggil juga disisinya ? lalu kenapa kita begitu
enggan meluruskan jalan kemudahan untuk saudara kita ? “seharusnya aku tidak
beralasan itu kepada mama” benakku.
Lalu ku ambil qur’an ku yang sudah berdebu. yang hanya menjadi pajangan tanpa dibaca, Maka hari ini aku membaca. Napasku
menghela bacaanku, mengirimkanya untuk
beliau menancapkan kekhusyuan yang mampu mencakar alam kematian dengan sinar
terang di sepanjang jalan gelap alam kubur.
Malam semakin larut, semua mata tertidur
lelap. Dengan niat menguburkan esok pagi sudah terbesit, memutuskan kesepakatan
dengan menguncinya dalam keheningan malam. Tak terkecuali aku, yang juga ingin
tidur lelap dironai perasaran takut akan didatangi arwah tersebut. Tetapi, lambat laun aku tertidur juga dengan lelap.
Pagi itu tiba,dengan sinar cerahnya. Devi
datang kembali mengajaku. Kamipun kesana dengan hati penuh duka. Disana dengan
suasana yang teramat pagi, Berjejer orang-orang yang berbaik budi. Meringankan tangan membuat tabla, Membentangkan
kain kapan panjang, Mengiris daun pandan, Memotong gadang pisang, dan disana
gerombolan keluarga dan tetangga bercerita tentang kebersamaan mereka selagi
beliau ada. mengisakkan tangis seakan nostalgia di hari-hari mereka
yang tiada tahu umurnya akan berakhir.
Selepas kami membaca yasiin dan membantu
orang-orang yang sedang sibuk, terasa kegiatan kami usai. Aku dan Devi pun, melangkah
gontai ke gerombolan orang-orang yang bercerita tadi. Disana kami mendapat
cerita, sejarah kami yang terasa terpotong dalam editan waktu. Berkilas balik dari umurku beberapa
tahun yang lalu, mengundur lebih lagi selagi aku tak ada mengecap bumi. dari
masa kecil orang tuaku, Eeng lah yang merawat mereka. Menambah perawatan extra
dari orangtua kakek dan nenek yang sibuk bekerja dimasa itu. Berkilas balik
kedepan, orang yang sering dia rawat kini sudah besar dan mempunyai cucu. Sekarang tugas Eeng tidak hanya sampai disitu. dia rawat cucu-cucu nya, dia
begitu mengerti tentang kesibukan orangtuanya. kini mereka bekerja dalam
tantangan ringan hingga terbangun rumah besar nan mewah dikampung kami.
Yang
juga menggores sejarah dari raut wajah sang Eeng, rambutnya putih dengan uban
menyeluruh. Yang kadang dia semir, mengumumkan kepada teman-temanya yang sebaya
bahwa dia awet muda lagi. Dia juga acap kali berkata bahwa pesta akan bubar. setidaknya
itu yang menjadi slogan dalam hidupnya. Di usia yang sudah tua, bukannya
menikmati harta, Tetapi dia masih mencari harta walaupun hanya dapat sepiring
nasi sehari. itupun dia meminta kepada keluarga untuk keihlasan imbalan
menjaga cucu.
Gelar nama kamipun banyak yang
diberikanya. Cincan untuk Bunga, bocah ramai untuk Melati, Meons untuk Aku, dan
Onyet untuk Devi. kami masih ingat gelar itu. Selebihnya cucu yang lain, tidak
mendapat gelar. Mungkin tergerus oleh usia beliau.
Dia amat senang ketika mendapat uang. Dibawanya kedalam mimpinya, setiap hari. Meski mimpi hanya ada tambah dan kurang. Dan
Jika menjelang lebaran dia habis-habisan membuat ketupat untuk dijual. Hingga
mengalahkan kami. Bahkan orang-orang menjulukinya juragan ketupat.
Uups aku baru ingat, bahwa aku bisa
mengayam ketupat itu berkat Eeng. Diusiaku yang masih kecil, dari jari jemari
yang belum mampu mencapai bakat. Diajarkannya aku yang babal dengan plus
amarahnya. Karena amarah itulah aku ingat, dan kini aku bangga dengan
keahlianku dalam membuat ketupat. Yang masih kecil keberuntungan orang, untuk
bisa mengayam ketupat yang sudah familiar atau tergerus sekalipun di
zamannya.
Tak terasa waktu begitu cepat. Membuat
cerita kami tersingkat. Ini sudah saatnya kepemakaman. Para gerombolan orang-orang
tadi mulai bubar dan berbaris panjang mengiringi jalan di pemakaman. Aku
berbareng jalan bersama ibuku. Sambil membawa racikan pandan yang memiliki
aroma sakral. Setelah tiba dipemakaman, barulah rasa
terakhir kalinya pun meluap, dihati kami semua yang menyaksikan. Menderaikan
air mata penyelesalan, terlebih orang yang tidak menjenguk dimasa sakitnya. Andai uang dapat menolong, maka keluargaku yang sudah kaya, akan memilih hilang
uang daripada nyawa beliau. Tetapi untuk apa ? karena penyesalan sudah terjadi. Dan tak
berlaku lagi, bergeming waktu yang sudah lewat.
Mataku melayang pandang dipojok makam
sana. Dibawah rindang pohon ketapang, bersungkur duduk ditiang atang. Mulutnya
berkucap-kucap. Mengenakan pakaian yang
sudah kami hafal ciri khasnya. Tetapi lebih hafal lagi dia tentang kakaknya. Karena
sudah bertahun jelang setengah abad umur mereka berdua. Satu suka, satu rasa
yang memberi makan Alil ketika Eeng juga makan. Kami hanya dapat melihatnya
dengan penuh pertanyaan. Entah doa magic apa yang dibacakanya. tetapi kami
semua sudah maklum akan keadaan otaknya yang tidak pernah dirawat dan didiagnosa oleh dokter.
Begitu pemakaman telah usai, tangis yang
terisak memerahkan mata, seakan mengadu sesal rindu yang lebih di jalan
pulangnya. Kami telah usai memakamkan beliau, maka terserah saja, mau melakukan
kegiatan apa. Entah sholat ghaif, membaca yasiin, qur'an,
ziarah, silaturahmi, perbanyak amal ibadah atau yang lainya. Tetapi kami
berharap, agar keluarga kami terbimbing kejalan yang benar. Terhindar dari api
neraka dan dapat menambah extra doa keselamatan bagi beliau. Lalu tentang
perawatan adik Eeng kami masih menguras kebijakan pemikiran agar lebih
tepatnya.
Semoga beliau tenang dialamnya. Terhindar
dari gelap dan siksa kubur. Dan kita sebagai manusia, juga pernah merasa salah
dan khilaf. Maka meminta maaflah kesalahan
kita terhadap orang lain, Sebelum orang lain memaafkan kita. Dan sholatlah
sebelum kita di sholatkan. Jangan biarkan
pula qur’an kamu dirumah hanya menjadi pajangan tanpa dibaca. bacalah selagi kita
masih bisa membacanya, karena hidup akan kembali juga kepada tuhannya.

Comments
Post a Comment