Ini bukan cerita tentang aku saja, tapi ini adalah cerita untuk semua yang hidup, yang tertawa dimuka bumi, yang menangis menghamba diri, dan yang menutup mata dengan kepalsuan. Semua sama tahu saja jika yang masih berproses itu di anggab remeh.
Aku menatap pada remah-remah roti itu. Membuat personifikasi kepadanya bahwa manusia yang miskin akan tersisih oleh penilaian orang lain yang sudah berada di level 10. Mereka berasal dari keluarga yang berada, mereka memulai bisnis pun jalan nya halus tidak sesukar jalan berbatu tajam yang kutempuh.
Dengan tertatih aku melanjutkan hidup. Tanpa support dari orangtua ku. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu, mendiang ayah masih hidup kami hidup berpindah-pindah meski ibu menginginkan rumah akan tetapi tidak pernah terwujud harapan itu karena kurangnya uang yang kami miliki.
Aku hanya tahu caranya belajar, belajar, dan belajar untuk status akademik ku. Aku tidak tahu cara membantu kedua orangtua ku dengan uang. Sampai suatu hari aku melihat ayah bahagia mendapatkan uang pemberian dari keponakanku.
Aku merasa sedih. Ketika orangtua ku sendiri hidup dalam kesusahan, aku merasa hidupku gagal, ibu ku setiap hari membandingkan aku dengan anak oranglain yang lebih sukses, gajinya besar, sudah bisa membeli rumah.
Akhirnya aku mengambil beasiswa penuh untuk kuliah. Sembari kuliah aku juga membuat usaha percetakan kecil-kecilan. Bagai ada secercah harapan untuk masa depan yang sedikit cerah, ayahku pun meninggal.
Sekarang cahaya itu ibarat mengelabu didalam sukmaku. Ada kegagalan yang tidak sempat terbahasakan. Namun hidup tetap harus dilanjutkan. Hidup bersama ibuku tidak sebijak hidup dibawah lindungan ayah. Kami mulai dikucilkan, dipandang sebelah mata itu hal sudah pasti.
Tanpa rumah, kami hidup di barak gratis punya adik tiri ayah. Bagiku ini lingkaran neraka dalam tumbuh kembang cita-cita ku. Sebab ibuku selalu mengemis untuk diberi orang lain uang. Sebagai anak pertama aku tidak tahan melihat ibu ku seperti ini.
Ingin aku bekerja dengan penghasilan yang lebih besar. Tetapi aturan kuliah melarang anak KIP bekerja. Jadi aku harus bekerja pada usaha yang aku buat sendiri. Usaha ini sempat ku angkat pada kegiatan MBKM ku dikampus.
Dosen pembimbingku juga tahu laporan keuangan ku. Tetapi dimana harapan disitulah sumber kekecewakan. Hibah 10 Jt dari kampus untuk wirausaha itu tidak pernah aku ketahui. Dan seandainya aku diberi uang itu, aku tidak akan menerimanya setelah mengetahui cerita ini.
Sebagai usaha yang aku bangun sendiri, dari 0 kehidupanku, takan kubiarkan sumbangsih oranglain masuk membantu. Biarlah air mata mengucur dalam kemiskinan takan kubiarkan dunia tahu tangisanku.
Aku bisa, aku mampu, walaupun kamu tidak menyukai ku. Karena aku hanyalah remah-remah roti yang tersisih.
Karya : Nurani Aisiyah Tanjung
Comments
Post a Comment